Friday, 16 May 2014

Taman Purbakala Cipari, Peradaban Prasejarah dari Kabupaten Kuningan



sumber: http://alampriangan.files.wordpress.com/2011/04/cipari-1.jpg

Terdapat sebuah situs purbakala yang diduga kuat sebagai peninggalan peradaban manusia purba terbesar di Indonesia. Disana adalah sebuah pusat perkembangan manusia purba di zaman dahulu kala.


Benar memang di Kuningan, tepatnya di Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur, tak ditemukan kerangka manusia purba. Namun sejumlah benda purbakala yang menjadi bukti peradaban massa purba berhasil ditemukan, digali dan selanjutnya diamankan.

Situs Cipari ditemukan pada tahun 1972 dengan adanya sebuah peti kubur batu yang merupakan satu ciri dari kebudayaan masa prasejarah. Penelitian/ekskavasi arkeologi secara sistematis, di bawah pimpinan Teguh Asmar yang dilakukan mulai tahun 1975 menghasilkan temuan-temuan perkakas dapur, gerabah, perunggu, dan bekas-bekas pondasi bangunan. Situs ini terhitung cukup lengkap menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu.

Sayang memang, keberadaan Taman Purbakala Cipari demikian situs itu dinamai-- keberadaannya kini sangat memprihatinkan. Situs yang pada tahun-tahun akhir 1970-an hingga awal-awal tahun 1980-an itu cukup memikat dan menjadi kebanggan Kota Kuningan itu kini sepi dan terkesan tak terawat dengan baik.
Penemuan batu berbentuk menhir juga ditemukan di Desa Walahar Cageur, masih di kecamatan yang sama. Motif batu prasejarah itu hampir sama seperti yang ditemukan di Cigedang.

Situs Cipari pernah mengalami dua kali masa pemukiman, yaitu masa akhir Neolitik dan awal pengenalan bahan perunggu yang berkisar tahun 1000 SM sampai dengan 500 SM.

Dasar dari keseluruhan tradisi megalitik ini adalah kepercayaan akan adanya hubungan erat antara yang masih hidup dengan yang telah mati atas kesejahteraan manusia, ternak dan pertanian. Juga terdapat keyakinan bahwa semua kebaikan atau tuah dari seorang kerabat yang telah mati dapat dipusatkan pada monumen-monumen yang didirikan untuk menjadi medium penghormatan, menjadi tahta kedatangan, sekaligus menjadi lambang bagi si mati.

Jasa amal atau kebaikan dapat diperoleh dengan mengadakan pesta-pesta atau upacara-upacara tertentu yang mencapai titik puncaknya dengan mendirikan monumen-monumen tersebut. Kebaikan tidak hanya akan memberikan prestasi dam kehidupan tapi juga menjamin nasib yang lebih baik lagi dalam hidup sesudah mati nanti.

Dengan adanya bukti ini, maka dapat diketahui bahwa Indonesia juga memiliki peradaban yang kuat dimasa lalu, tetapi yang menjadi masalah adalah masa kini justru menjadi terbelakang. Apakah masyarakat Indonesia mengalami perlambatan evolusi? Ataukah bahkan mengalami evolusi mundur? Semoga kita mampu belajar banyak pada kejayan leluhur kita di zaman "purba"

0 comments: